![]() |
| Kasirun, S.TP |
Hallo sobat semua kali ini mimin mau melanjutkan artikel yang telah mimin buat kemarin yang berjudul "Kunci Sukses Mengendalikan HPT Cabai". Kita langsung saja ya...
PEMBERIAN PUPUK
Sebelum
bedengan ditutup dengan mulas plastik hitam perak, lahan penanaman cabai perlu
diberi pupuk dasar sebagai pemupukan awal. Pupuk dasar ini terdiri dari :
1. Pupuk Kandang dengan dosis antara 1 kg sampai
2 kg per batang atau 15-30 ton per hektar.
2. Pupuk
Urea atau Za, 30 gr per batang atau 300 kg per hektar.
3. Pupuk TSP 46, 45
g per batang atau 450 kg per hektar.
4. Pupuk
KCl, 40 g per batang atau 400 kg per hektar.
Jika lahan baru dibuka pertama kali untuk penanaman cabai maka
pemberian pupuk di atas perlu diperbesar lagi, atau justru dikurangi jika
memang kondisi lahan sudah subur, penambahan atau pengurangan pupuk dasar di atas
tergantung kondisi tanah.
Setelah pemupukan
di atas, lahan perlu dicangkul lagi supaya pupuk dan tanah bisa bercampur rata.
Setelah itu, lahan ditutup dengan mulsa plastik hitam perak dan dibiarkan
seminggu, supaya antara pupuk dan tanah bereaksi. Lagi pula jasad renik yang
diperlukan tanaman yang terutama berasal dari pupuk kandang bisa berkembang
lebih baik. Tujuannya ketika bibit cabai ditanam, tingkat kesuburan tanah sudah
cukup memadai dan segala kebutuhan akan unsur hara sudah tersedia. Dengan
harapan bibit yang ditanam tadi, nantinya bisa menjadi tanaman yang sehat
dengan hasil yang optimal.
Yang lebih
penting lagi, pemberian pupuk di atas berdasarkan pada PH tanah netral. Jika PH
tanah belum netral maka tanah itu perlu dinetralkan terlebih dulu sebelum
dipupuk. Caranya dengan pengapuran lahan, bisa dengan menggunakan dolomit.
Kenapa PH tanah harus netral? Karena pada PH netral semua unsur hara yang
diperlukan tanaman bisa diserap oleh akar secara seimbang.
Pemupukan selanjutnya setelah tanaman berumur
5 HST dengan cara pengocoran, pemupukan dengan cara dicor ini diulang seminggu
sekali sampai tanaman tidak produktif lagi. Pengocoran dilakukan dengan cara
mencampur air satu drum ( ± 200 l) dengan NPK 4 kg, ZA 1 Kg serta TSP 2 Kg,
berikan per batang 200cc. Pencampuran air dengan pupuk untuk pengocoran
dilakukan sehari sebelum pemupukan
Memilih
dan menyemai benih yang baik.
Dalam budidaya
cabai pemilihan benih sangat menentukan keberhasilan, pilihlah benih dari buah
yang baik atau benih cabai diambilkan
dari buah tanaman induk yang sehat dan tidak berbaur dengan jenis cabai lain. Buah
yang dipilih bentuknya sempurna, tidak cacat, bebas hama penyakit, dan cukup
tua umurnya. Lantas buah cabai tadi kita ambil bijinya dari 2/3 bagian buah,1/3
bagian ujung kita buang. Barulah biji ini kita jemur dan keringkan. Atau cara
yang lebih aman adalah dengan menggunakan benih cabai yang dijual di toko-toko
pertanian. Tetapi harus diingat benih yang kita pilih adalah benih yang
bermerek dan diakui dinas pertanian atau kementerian pertanian. Karena benih
ini selain sudah melalui pemrosesan yang tepat juga sudah diberikan obat.
Benih yang sudah kita pilih ini kemudian kita semai.
Sebelum disemai benih kita rendam dengan air dan kita aduk, kemudian diamkan
sebentar, buang semua biji yang terapung, karena biji ini kurang bagus untuk dijadikan
bibit. Benih yang tenggelam selanjutnya kita rendam semalam dengan 1 liter air
ditambah 1 sendok teh atonik.
Pada
pagi harinya bibit ini kita masukkan ke dalam polybag yang sudah diisi campuran
tanah, pupuk TSP dan pupuk kandang (dimana perbandingannya, 1 kg tanah, 2 kg
pupuk kandang, 1 ons TSP). Satu polybag kita isi dengan 1 benih cabai. Polybag
ini kita taruk di bawah naungan yang tidak kena sinar matahari dan hujan
langsung, dalam arti kita buatkan tempat khusus untuk pembibitan. Setelah 4
hari bibit ini biasanya sudah mulai tumbuh.
Selama
proses pertumbuhan, pemeliharaan umum kita lakukan. Seperti penyiraman dua kali sehari jika udara kelewat panas,
penjagaan terhadap hama
dan penyakit. Bahkan bila perlu harus kita semprot setiap 5 hari sekali dengan
campuran fungisida, insektisida dan pupuk daun. Setelah berumur 15-30 hari
setelah semai atau telah memiliki 2-3 daun sejati bibit baru dipindahkan
kelapangan.
MENANAM
BIBIT DI LAHAN.
Sebelum
menanam bibit di lahan tentukan dulu jarak tanam yang akan digunakan dengan
cara melubangi mulsa plastik dengan kaleng yang diberi bara api. Jarak tanam
ditentukan berdasarkan jenis cabai yang ditanam. Biasanya yang dipakai adalah
50-60 cm antar lubang dan 60-70 cm untuk jarak barisan dan 70-80 cm jarak antar
bedengan.
Tujuan
dilakukan jarak tanam ini adalah :
a.
Agar
masing-masing tanaman tidak berebut makanan.
b.
Agar
masing-masing tanaman tidak berebut air
c.
Agar
masing-masing tanaman tidak berebut sinar matahari (tidak saling menaungi).
Pada
penanaman bibit, polybag atau plastik tempat pembibitan harus dibuang dan
usahakan tanah tidak pecah. Kemudian tanah berikut tanaman muda ditanam di
lubang yang sudah disiapkan sebelumnya. Urug tanaman sampai batas pangkal
batang atau sampai menutupi tanah bekas pembibitan. Selanjutnya, bagian tanah
di sekitar tanaman, ditekan-tekan pakai tangan supaya tanah sekitar bisa
bersatu dengan tanah sekitar bibit. Penanaman ini lebih baik dilakukan pada
waktu sore hari dimana sinar matahari sudah tidak terlalu panas, supaya bibit
yang baru kita pindahkan tadi tidak layu kepanasan oleh terik matahari.
Selesai penanaman, tanaman
tadi langsung disirami. Karena tanaman yang baru dipindahkan di kebun itu
keadaannya masih lemah, maka untuk melindungi sengatan matahari langsung atau
terpaan air hujan yang kelewat deras serta terpaan angin yang cukup kencang,
tanaman muda tersebut perlu diberi pelindung ala kadarnya, misalnya dengan
pelepah batang pisang selama 3-4 hari.
PERAWATAN
DAN PENYIANGAN
Dalam pertumbuhannya tanaman
cabai memerlukan penyangga untuk menahan tanaman dari terpaan angin atau
beratnya buah, penyangga ini harus sudah kita pasang paling tidak 5 HST agar
tidak merusak akar tanaman. Penyangga dapat menggunakan bambu dengan panjang ± 130 cm.
Tanaman
cabai ini selain dipupuk dan disemprot juga harus disiang dari gulma
pengganggu. Tujuannya agar pupuk yang kita berikan benar-benar hanya diserap
oleh tanaman cabai itu saja. Dalam melakukan penyiangan harus hati-hati, jangan
sampai pada saat mengangkat gulma mengganggu akar tanaman cabai, bila perlu
kita potong gulma itu pada pangkal akarnya saja. Selain penyiangan hal yang
perlu dilakukan adalah pembuangan cabang-cabang sekunder, hal ini perlu
dilakukan agar tanaman tumbuh kokoh dan kuat sebelum berbunga dan berbuah. Cabang
sekunder merupakan cabang yang tumbuh pada ketiak daun batang utama.Demikian untuk kali ini, jangan lupa ikuti terus ya artikel ini karena mimin akan melanjutkan tulisan ini dengan bagian pengendalian Hama dan Penyakit tanaman cabai.


