Tuesday, 17 May 2016

KUNCI SUKSES MENGENDALIKAN HPT CABAI (Lanjutan)

Kasirun, S.TP

Hallo sobat semua kali ini mimin mau melanjutkan artikel yang telah mimin buat kemarin yang berjudul "Kunci Sukses Mengendalikan HPT Cabai". Kita langsung saja ya...

PEMBERIAN PUPUK

Sebelum bedengan ditutup dengan mulas plastik hitam perak, lahan penanaman cabai perlu diberi pupuk dasar sebagai pemupukan awal. Pupuk dasar ini terdiri dari :
1.  Pupuk Kandang dengan dosis antara 1 kg sampai 2 kg per batang atau 15-30 ton per hektar.
2.   Pupuk Urea atau Za, 30 gr per batang atau 300 kg per hektar.
3.   Pupuk TSP 46, 45 g per batang atau 450 kg per hektar.
4.   Pupuk KCl, 40 g per batang atau 400 kg per hektar.
Jika lahan baru dibuka pertama kali untuk penanaman cabai maka pemberian pupuk di atas perlu diperbesar lagi, atau justru dikurangi jika memang kondisi lahan sudah subur, penambahan atau pengurangan pupuk dasar di atas tergantung kondisi tanah.
Setelah pemupukan di atas, lahan perlu dicangkul lagi supaya pupuk dan tanah bisa bercampur rata. Setelah itu, lahan ditutup dengan mulsa plastik hitam perak dan dibiarkan seminggu, supaya antara pupuk dan tanah bereaksi. Lagi pula jasad renik yang diperlukan tanaman yang terutama berasal dari pupuk kandang bisa berkembang lebih baik. Tujuannya ketika bibit cabai ditanam, tingkat kesuburan tanah sudah cukup memadai dan segala kebutuhan akan unsur hara sudah tersedia. Dengan harapan bibit yang ditanam tadi, nantinya bisa menjadi tanaman yang sehat dengan hasil yang optimal.
Yang lebih penting lagi, pemberian pupuk di atas berdasarkan pada PH tanah netral. Jika PH tanah belum netral maka tanah itu perlu dinetralkan terlebih dulu sebelum dipupuk. Caranya dengan pengapuran lahan, bisa dengan menggunakan dolomit. Kenapa PH tanah harus netral? Karena pada PH netral semua unsur hara yang diperlukan tanaman bisa diserap oleh akar secara seimbang.  
 Pemupukan selanjutnya setelah tanaman berumur 5 HST dengan cara pengocoran, pemupukan dengan cara dicor ini diulang seminggu sekali sampai tanaman tidak produktif lagi. Pengocoran dilakukan dengan cara mencampur air satu drum ( ± 200 l) dengan NPK 4 kg, ZA 1 Kg serta TSP 2 Kg, berikan per batang 200cc. Pencampuran air dengan pupuk untuk pengocoran dilakukan sehari sebelum pemupukan
           
Memilih dan menyemai benih yang baik.
Dalam budidaya cabai pemilihan benih sangat menentukan keberhasilan, pilihlah benih dari buah yang baik  atau benih cabai diambilkan dari buah tanaman induk yang sehat dan tidak berbaur dengan jenis cabai lain. Buah yang dipilih bentuknya sempurna, tidak cacat, bebas hama penyakit, dan cukup tua umurnya. Lantas buah cabai tadi kita ambil bijinya dari 2/3 bagian buah,1/3 bagian ujung kita buang. Barulah biji ini kita jemur dan keringkan. Atau cara yang lebih aman adalah dengan menggunakan benih cabai yang dijual di toko-toko pertanian. Tetapi harus diingat benih yang kita pilih adalah benih yang bermerek dan diakui dinas pertanian atau kementerian pertanian. Karena benih ini selain sudah melalui pemrosesan yang tepat juga sudah diberikan obat.

            Benih  yang sudah kita pilih ini kemudian kita semai. Sebelum disemai benih kita rendam dengan air dan kita aduk, kemudian diamkan sebentar, buang semua biji yang terapung, karena biji ini kurang bagus untuk dijadikan bibit. Benih yang tenggelam selanjutnya kita rendam semalam dengan 1 liter air ditambah 1 sendok teh atonik.
                 Pada pagi harinya bibit ini kita masukkan ke dalam polybag yang sudah diisi campuran tanah, pupuk TSP dan pupuk kandang (dimana perbandingannya, 1 kg tanah, 2 kg pupuk kandang, 1 ons TSP). Satu polybag kita isi dengan 1 benih cabai. Polybag ini kita taruk di bawah naungan yang tidak kena sinar matahari dan hujan langsung, dalam arti kita buatkan tempat khusus untuk pembibitan. Setelah 4 hari bibit ini biasanya sudah mulai tumbuh.
                 Selama proses pertumbuhan, pemeliharaan umum kita lakukan. Seperti penyiraman  dua kali sehari jika udara kelewat panas, penjagaan terhadap hama dan penyakit. Bahkan bila perlu harus kita semprot setiap 5 hari sekali dengan campuran fungisida, insektisida dan pupuk daun. Setelah berumur 15-30 hari setelah semai atau telah memiliki 2-3 daun sejati bibit baru dipindahkan kelapangan.

MENANAM BIBIT DI LAHAN.

Sebelum menanam bibit di lahan tentukan dulu jarak tanam yang akan digunakan dengan cara melubangi mulsa plastik dengan kaleng yang diberi bara api. Jarak tanam ditentukan berdasarkan jenis cabai yang ditanam. Biasanya yang dipakai adalah 50-60 cm antar lubang dan 60-70 cm untuk jarak barisan dan 70-80 cm jarak antar bedengan.
                  Tujuan dilakukan jarak tanam ini adalah :
a.    Agar masing-masing tanaman tidak berebut makanan.
b.    Agar masing-masing tanaman tidak berebut air
c.    Agar masing-masing tanaman tidak berebut sinar matahari (tidak saling menaungi).
                  Pada penanaman bibit, polybag atau plastik tempat pembibitan harus dibuang dan usahakan tanah tidak pecah. Kemudian tanah berikut tanaman muda ditanam di lubang yang sudah disiapkan sebelumnya. Urug tanaman sampai batas pangkal batang atau sampai menutupi tanah bekas pembibitan. Selanjutnya, bagian tanah di sekitar tanaman, ditekan-tekan pakai tangan supaya tanah sekitar bisa bersatu dengan tanah sekitar bibit. Penanaman ini lebih baik dilakukan pada waktu sore hari dimana sinar matahari sudah tidak terlalu panas, supaya bibit yang baru kita pindahkan tadi tidak layu kepanasan oleh terik matahari.
                  Selesai penanaman, tanaman tadi langsung disirami. Karena tanaman yang baru dipindahkan di kebun itu keadaannya masih lemah, maka untuk melindungi sengatan matahari langsung atau terpaan air hujan yang kelewat deras serta terpaan angin yang cukup kencang, tanaman muda tersebut perlu diberi pelindung ala kadarnya, misalnya dengan pelepah batang pisang selama 3-4 hari.

PERAWATAN DAN PENYIANGAN
                  Dalam pertumbuhannya tanaman cabai memerlukan penyangga untuk menahan tanaman dari terpaan angin atau beratnya buah, penyangga ini harus sudah kita pasang paling tidak 5 HST agar tidak merusak akar tanaman. Penyangga dapat menggunakan bambu  dengan panjang  ± 130 cm.
                        Tanaman cabai ini selain dipupuk dan disemprot juga harus disiang dari gulma pengganggu. Tujuannya agar pupuk yang kita berikan benar-benar hanya diserap oleh tanaman cabai itu saja. Dalam melakukan penyiangan harus hati-hati, jangan sampai pada saat mengangkat gulma mengganggu akar tanaman cabai, bila perlu kita potong gulma itu pada pangkal akarnya saja. Selain penyiangan hal yang perlu dilakukan adalah pembuangan cabang-cabang sekunder, hal ini perlu dilakukan agar tanaman tumbuh kokoh dan kuat sebelum berbunga dan berbuah. Cabang sekunder merupakan cabang yang tumbuh pada ketiak daun batang utama.

Demikian untuk kali ini, jangan lupa ikuti terus ya artikel ini karena mimin akan melanjutkan tulisan ini dengan bagian pengendalian Hama dan Penyakit tanaman cabai.

Back To Top